Wednesday, May 16, 2007

Surfing, Mengendarai Ombak Bersetubuh dengan Laut

Batu Karas...

Dengan papan buggy pinjaman dari sahabat sejak kecil, Dadang (dia menikah dengan perempuan Jerman), saya kerap menghabiskan waktu di Laut Batu Karas. Oh ya, saya kelahiran Cijulang... sekitar 2 km dari pantai Batu Karas. Agar sampai di Batu Karas, saya dengan sepeda ontel maupun motor pinjaman dari uwak/bibi, akan melewati sasak gantung. Begitulah, dengan sawah di kiri jalan yang luas -dan punya kakek saya juga hehehehe- saya biasanya berangkat jam 07.00 pagi, ke Batu Karas, pulang jam 10, dan jam 16.00 sore balik lagi ke sana. semuanya untuk buggy! Yaaah, menghabiskan waktu liburan selama 1 minggu di Cijulang.
Ombak Batu Karas sangat ramah buat pemula. Tidak mudah pecah, panjang, dan tarikan arusnya sangat kuat. Papan buggy Dadang, seharga 2 juta, akan menarik tubuh yang berat ini dalam kecepatan luar biasa. Gila! Nikmat betul... konsen saya cuma satu: Tidak terseret ke batu karang. Karena setelah diseret ombak, maka tak ada rem yang bisa saya pake hehehehe. Kalau sial..., muka pasti hancur dan tangan kemungkinan patah! Pernah ada kawan yang main surfing, papannya terselip di antara batu karang (gak tau gimana prosesnya), hehehehe... dia gelagapan mo mati bowz! Kalo gak ditulungin kita-kita yang mengangkatnya sambil katawa-ketiwi. Oh ya, satu lagi, musuh kita adalah ubur-ubur! Adik saya Egi sempat pingsan disengat dua ubur-ubur.
Mo tau rasanya ber-buggy ria? Wuih... kita harus berenang ke point (titik awal datangnya ombak). Perlu belajar 2 hari agar kita bisa paddling ke point, menyeimbangkan tubuh, dan duduk santai di atas papan. Begitu ombak datang, maka kita harus segera membalikkan tubuh membelakangi ombak, melakukan paddling sekuatnya dengan kaki lurus. Tiba-tiba ombak akan menyeret kita.... setelah itu.... wuuuiiiiiiiiizzzzzzz... kita akan diseret ombak sekencang-kencangnya. Seperti mengendarai angin (baca: terbang), tapi di atas air. Tubuh kita seolah lebih tinggi dari daratan, dan daratan makin dekat... dekat...dekat... lal uombak pecah!! anjrit!! Nikmat!!
Kuta
Saya mendapatkan kesempatan belajar rafting di Kuta - di sekolah rafting punyanya Mardi Wu, Oddysey. Awalnya gak percaya bisa diri hanya dalam waktu 30 menit. Saya ketawa, wong belajar paddling aja 2 hari. Eh, ternyata... dengan papan malibu cuma butuh waktu 20 menit saya udah bisa diri. Anjriit!! Emang sih, papan Malibu baru berfungsi saat ombak pecah... bukan saat ombak hendak pecah (seperti main buggy atau papan surfing profesional).
Tapi gak kurang nikmat kok hehehehe. yang penting bisa mengendarai ombak. Oh ya, berkat bekal di Batu Karas... saya sanggup berdiri lama ketimbang temen-temen yang lain. Ahhh... kapan yah main papan profesional?
Ngerasa dihantam papan profesional seh udah pernah, idung sakit sampe dua hari dan budeg kemasukan air yang gak ilang selama 2 hari hehehehe. Uhuuuyy... ntar ajah laaah....

Sobatku, Nyaris Mati di Batur

Bali, suatu pagi...

Perjalanan kami pagi itu, di atas bus Blue Bird hanyalah mendaki... menyusuri jalan aspal, di punggungan Gunung Batur. Tujuannya: Bersepeda Gunung. Ini adalah pengalaman ke-2, setelah sebelumnya pernah menuruni lereng Gunung Agung (Puri Pemaksaan Sorga - Telaga Waja). Di sebuah resto... dengan pemandangan danau Batur, kami mulai gowes turun gunung. Trek awal -yang disediakan Sobek- hanyalah jalan aspal. Sekitar 35 sepeda mulai turun dengan kencang. Kecepatan mencapai angka 45 km - 65 km/jam. Belok kiri ke arah perkampungan, jalan makin menukik tajam, sementara jalan aspal semakin rusak. Dan...
4 sepeda terlibat tabrakan di depan! Tiga sepeda tetap melaju... tapi Cipto, terbanting keras ke tanah. Kepalanya menghantam aspal dan terseret sekitar 5 langkah. Gak berapa lama, matanya langsung mendelik ke atas, tubuhnya kejang-kejang, dan mulutnya mengeluarkan bunyi mengorok yang keras. Ya Allah! saya khawatir sobat saya itu mati...
Saya segera turun, seperti yang lain... bingung hendak melakukan apa. Tapi tiba-tiba, saya ingat pendidikan survival yang diajarkan Dr. Cico (Siswo P. Santoso) dari RS UKI. "Suara ngorok," katanya,"Akibat adanya sumbatan pada saluran napas." Dan langkah yang saya lakukan kemudian adalah membuka mulut Cipto lebar-lebar, tak peduli dua jari saya digigitnya. Selanjutnya, saya tarik dan tekan lidahnya ke bawah. Cipto batuk, darah segar mengalir dari mulutnya. Tapi kini dia bisa bernapas meski tetap pingsan dan kejang.
Tim evakuasi datang. Cipto diangkat dengan teknik 'evakuasi korban' yang benar: Yang saat itu saya tekankan benar-benar pada anggota dari Sobek.
Lanjut dengan Rafting
Trek demi trek berhasil kami atasi: aspal, tanah, perkebunan, sawah, pinggiran sungai, istana Tampak Siring, hingga akhirnya sampai di dekat Ayung. Perjalanan dilanjutkan dengan rafting. sebelumnya, saya mengumpulkan semua anggota tim dan mengabarkan bahwa kondisi Cipto mulai membaik -seperti hasil koordinasi saya dengan tim Sobek.
Ayung, hari itu sangat ramah. Tidak ada tantangan -buat saya yang kerap melalap sungai Citarik dan Citatih. Bahkan Ayung, tak sehebat Telaga Waja... yang memiliki jeram setinggi 4 meter (sebenarnya itu sebuah dam) 500 m menjelang finish. Tak ada jeram macam Tanah Longsor (Telaga Waja), yang membuat kita harus tenggelam sepersekian detik di dalam air, atau jeram panjang seperti Zig-zag dan TVRI di Citarik. Buat saya, Ayung terlalu datar!
Surfing
Besoknya, tantangan yang harus saya hadapi adalah surfing. Saya sudah 3 kali surfing di Kuta -meski cuma menggunakan papan jenis Malibu. Toh, saya sudah bisa berdiri lama. Main buggy? Ah, ombak Kuta tak sepanjang ombak Batu Karas... tempat pertama kali saya berlatih buggy. Ombak Kuta terlalu mudah pecah.
Akhirnya, saya memilih untuk memfoto teman-teman yang lain. Menjaga pakaian mereka sembari cuci mata... mmh. Tak banyak bule yang topless hehehehe...
Perjalanan ke Bali, ditutup dengan makan malam bersama sobat saya Agus. Makan enak di Jimbaran... dan terhenyak, karena 2 minggu kemudian JImbaran dibom teroris.
Mmh... petualangan nan aneh.