Dengan papan buggy pinjaman dari sahabat sejak kecil, Dadang (dia menikah dengan perempuan Jerman), saya kerap menghabiskan waktu di Laut Batu Karas. Oh ya, saya kelahiran Cijulang... sekitar 2 km dari pantai Batu Karas. Agar sampai di Batu Karas, saya dengan sepeda ontel maupun motor pinjaman dari uwak/bibi, akan melewati sasak gantung. Begitulah, dengan sawah di kiri jalan yang luas -dan punya kakek saya juga hehehehe- saya biasanya berangkat jam 07.00 pagi, ke Batu Karas, pulang jam 10, dan jam 16.00 sore balik lagi ke sana. semuanya untuk buggy! Yaaah, menghabiskan waktu liburan selama 1 minggu di Cijulang.
Ombak Batu Karas sangat ramah buat pemula. Tidak mudah pecah, panjang, dan tarikan arusnya sangat kuat. Papan buggy Dadang, seharga 2 juta, akan menarik tubuh yang berat ini dalam kecepatan luar biasa. Gila! Nikmat betul... konsen saya cuma satu: Tidak terseret ke batu karang. Karena setelah diseret ombak, maka tak ada rem yang bisa saya pake hehehehe. Kalau sial..., muka pasti hancur dan tangan kemungkinan patah! Pernah ada kawan yang main surfing, papannya terselip di antara batu karang (gak tau gimana prosesnya), hehehehe... dia gelagapan mo mati bowz! Kalo gak ditulungin kita-kita yang mengangkatnya sambil katawa-ketiwi. Oh ya, satu lagi, musuh kita adalah ubur-ubur! Adik saya Egi sempat pingsan disengat dua ubur-ubur.
Mo tau rasanya ber-buggy ria? Wuih... kita harus berenang ke point (titik awal datangnya ombak). Perlu belajar 2 hari agar kita bisa paddling ke point, menyeimbangkan tubuh, dan duduk santai di atas papan. Begitu ombak datang, maka kita harus segera membalikkan tubuh membelakangi ombak, melakukan paddling sekuatnya dengan kaki lurus. Tiba-tiba ombak akan menyeret kita.... setelah itu.... wuuuiiiiiiiiizzzzzzz... kita akan diseret ombak sekencang-kencangnya. Seperti mengendarai angin (baca: terbang), tapi di atas air. Tubuh kita seolah lebih tinggi dari daratan, dan daratan makin dekat... dekat...dekat... lal uombak pecah!! anjrit!! Nikmat!!
Kuta
Saya mendapatkan kesempatan belajar rafting di Kuta - di sekolah rafting punyanya Mardi Wu, Oddysey. Awalnya gak percaya bisa diri hanya dalam waktu 30 menit. Saya ketawa, wong belajar paddling aja 2 hari. Eh, ternyata... dengan papan malibu cuma butuh waktu 20 menit saya udah bisa diri. Anjriit!! Emang sih, papan Malibu baru berfungsi saat ombak pecah... bukan saat ombak hendak pecah (seperti main buggy atau papan surfing profesional).
Tapi gak kurang nikmat kok hehehehe. yang penting bisa mengendarai ombak. Oh ya, berkat bekal di Batu Karas... saya sanggup berdiri lama ketimbang temen-temen yang lain. Ahhh... kapan yah main papan profesional?
Ngerasa dihantam papan profesional seh udah pernah, idung sakit sampe dua hari dan budeg kemasukan air yang gak ilang selama 2 hari hehehehe. Uhuuuyy... ntar ajah laaah....
No comments:
Post a Comment