Wednesday, May 16, 2007

Sobatku, Nyaris Mati di Batur

Bali, suatu pagi...

Perjalanan kami pagi itu, di atas bus Blue Bird hanyalah mendaki... menyusuri jalan aspal, di punggungan Gunung Batur. Tujuannya: Bersepeda Gunung. Ini adalah pengalaman ke-2, setelah sebelumnya pernah menuruni lereng Gunung Agung (Puri Pemaksaan Sorga - Telaga Waja). Di sebuah resto... dengan pemandangan danau Batur, kami mulai gowes turun gunung. Trek awal -yang disediakan Sobek- hanyalah jalan aspal. Sekitar 35 sepeda mulai turun dengan kencang. Kecepatan mencapai angka 45 km - 65 km/jam. Belok kiri ke arah perkampungan, jalan makin menukik tajam, sementara jalan aspal semakin rusak. Dan...
4 sepeda terlibat tabrakan di depan! Tiga sepeda tetap melaju... tapi Cipto, terbanting keras ke tanah. Kepalanya menghantam aspal dan terseret sekitar 5 langkah. Gak berapa lama, matanya langsung mendelik ke atas, tubuhnya kejang-kejang, dan mulutnya mengeluarkan bunyi mengorok yang keras. Ya Allah! saya khawatir sobat saya itu mati...
Saya segera turun, seperti yang lain... bingung hendak melakukan apa. Tapi tiba-tiba, saya ingat pendidikan survival yang diajarkan Dr. Cico (Siswo P. Santoso) dari RS UKI. "Suara ngorok," katanya,"Akibat adanya sumbatan pada saluran napas." Dan langkah yang saya lakukan kemudian adalah membuka mulut Cipto lebar-lebar, tak peduli dua jari saya digigitnya. Selanjutnya, saya tarik dan tekan lidahnya ke bawah. Cipto batuk, darah segar mengalir dari mulutnya. Tapi kini dia bisa bernapas meski tetap pingsan dan kejang.
Tim evakuasi datang. Cipto diangkat dengan teknik 'evakuasi korban' yang benar: Yang saat itu saya tekankan benar-benar pada anggota dari Sobek.
Lanjut dengan Rafting
Trek demi trek berhasil kami atasi: aspal, tanah, perkebunan, sawah, pinggiran sungai, istana Tampak Siring, hingga akhirnya sampai di dekat Ayung. Perjalanan dilanjutkan dengan rafting. sebelumnya, saya mengumpulkan semua anggota tim dan mengabarkan bahwa kondisi Cipto mulai membaik -seperti hasil koordinasi saya dengan tim Sobek.
Ayung, hari itu sangat ramah. Tidak ada tantangan -buat saya yang kerap melalap sungai Citarik dan Citatih. Bahkan Ayung, tak sehebat Telaga Waja... yang memiliki jeram setinggi 4 meter (sebenarnya itu sebuah dam) 500 m menjelang finish. Tak ada jeram macam Tanah Longsor (Telaga Waja), yang membuat kita harus tenggelam sepersekian detik di dalam air, atau jeram panjang seperti Zig-zag dan TVRI di Citarik. Buat saya, Ayung terlalu datar!
Surfing
Besoknya, tantangan yang harus saya hadapi adalah surfing. Saya sudah 3 kali surfing di Kuta -meski cuma menggunakan papan jenis Malibu. Toh, saya sudah bisa berdiri lama. Main buggy? Ah, ombak Kuta tak sepanjang ombak Batu Karas... tempat pertama kali saya berlatih buggy. Ombak Kuta terlalu mudah pecah.
Akhirnya, saya memilih untuk memfoto teman-teman yang lain. Menjaga pakaian mereka sembari cuci mata... mmh. Tak banyak bule yang topless hehehehe...
Perjalanan ke Bali, ditutup dengan makan malam bersama sobat saya Agus. Makan enak di Jimbaran... dan terhenyak, karena 2 minggu kemudian JImbaran dibom teroris.
Mmh... petualangan nan aneh.

No comments: